Club, Mag, Net and Radio For Marketeers Community



Kicauan Revolusioner Netizen dan Kediktaktoran Merek



tunisiaTwitter 300x180 Kicauan Revolusioner Netizen dan Kediktaktoran MerekSudah tidak zamannya lagi memelihara

kediktaktoran merek di era New Wave Marketing.

Boleh dibilang fenomena netizen sekarang ini luar biasa. Dunia ini sekarang benar-benar milik publik. Kekuasaan seorang kepala negara dengan mudah diguncang dengan gerakan di areal percakapan di berbagai media sosial seperti Twitter. Tentu ini bukan kekuatan tunggal. Kombinasi gerakan di ranah daring dengan gerakan di lapanganlah menjadi kekuatan nyata gerakan sosial. Kasus Tunisia dan Mesir menjadi kasus paling aktual sekarang ini.

Beberapa hari lalu, situs TIME merilis video dengan judul “Tunisia, Arab Youth, Rebellion and Twitter”. Video ini menggambarkan bagaimana peran Twitter, YouTube dalam gerakan pemberontakan menentang pemerintahan. Gelombang protes ini akhirnya memaksa Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali mengundurkan diri dari kursi kepresidenan usai berkuasa selama 23 tahun. Zine El Abidine pun hengkang dari Tunisia. Revolusi yang diwarnai huru-hara itu pun menelan banyak korban tewas di kalangan warga. Meminjam istilah dari Bung Karno, revolusi selalu memakan anak-anaknya sendiri. Saya jadi membayangkan seandainya di masa diktaktor Soeharto sudah ada Twitter. Mungkin pemerintahan Soeharto lebih cepat tumbang.

Hari ini, di berbagai media, dikabarkan bahwa Mesir mulai memblokir akses kicauan 140 karakter ini. Kisruh Tunisia yang dikhawatirkan merembet di Mesir sepertinya bakal menjadi kenyataan. Para demonstran turun ke jalan menuntut Presiden Hosni Mubarak mundur setelah 30 tahun pemerintahannya. Isu yang diusung tidak jauh dari isu korupsi, krisis ekonomi, dan sebagainya. Gelombang protes hari-hari ini juga disambut dengan tembakan gas air mata, peluru tajam, barikade tentara dan polisi, dan sebagainya. Karena melihat sebagian demonstrasi itu digerakkan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter, pemerintah Mesir memblokir media sosial khususnya Twitter. Pemblokiran ini malah membuat aksi protes semakin membesar. Tak tetutup kemungkinan ujung drama mesir ini adalah tergulingnya pemerintahan Hosni Mubarak.

Kekuatan Netizen pada Marketing

Internet telah mengubah banyak hal. Politik, misalnya, tidak lagi didominasi oleh para politisi dan pemerintah. Lanskap politik pun berubah menjadi horisontal. Publik dengan mudahnya berpolitik melalui percakapan-percakapan di media sosial. Media-media ini dimanfaatkan untuk berbagi ide sekaligus mengorganisir gerakan di lapangan. Media sosial ini boleh dibilang menjadi ruang publik anyar. Dulu dan (sekarang), di era legacy, orang berkumpul dan berdiskusi saja sudah dicurigai, dibubarkan, bahkan orang-orangnya diciduk pemerintah. Sekarang, caranya dengan memblokir akses-akses media sosial, seperti Twitter.

Banyak hikmah bagi pemasar dari kasus di Tunisia dan Mesir di atas. Selain lanskap politik berubah, lanskap ekonomi—khususnya pola relasi antara merek dan konsumen—pun berubah. Semua serba horisontal dan transparan. Merek tidak lagi bisa mengumbar kedikataktorannya kepada konsumen. Mengingat, konsumen sudah sangat powerfull. Merek tidak bisa lagi memerintah paksa orang untuk membeli produk. Konsumen sekarang mempunyai kesadaran diskursif untuk memilih dengan melakukan konfirmasi dan rekomendasi antarkonsumen sendiri. Promosi satu arah khususnya melalui tabung-tabung televisi sudah tidak lagi seratus persen mumpuni. Pemasar kudu bisa terlibat dalam percakapan dengan konsumennya. Bahkan, dengan gampannya, konsumen membincangkan sisi buruk dari merek dan produk.

Tidak hanya itu, kediktaktoran merek juga bisa dikikis dengan memberikan ruang co-creation dan kolaborasi merek dan pelanggan. Berkreasi dengan pelanggan, mendengarkan masukan mereka menjadi jalan yang jalan yang dilakukan pemasar di era sekarang.

Intinya, kediktaktoran merek sudah tidak zamannya lagi di era New Wave Marketing ini. Apalagi memberangus suara-suara kritis konsumen dengan cara-cara legacy. Kasus Prita Mulyasari dan RS OMNI Alam Sutera menjadi contoh gamblang bagaimana konsumen (warga) menggalang kekuatan melawan kediktaktoran merek RS OMNI Alam Sutera ini.

Sebab itu, sekali lagi, pemasar kudu menghorisontalkan dirinya bersama konsumennya. Mendengarkan suara-suara mereka, memahami mimpi dan kecemasan mereka, membangun percakapan, dan sebagainya. Kalau tidak, jangan heran bila suatu saat, gelombang konsumen bisa menumbangkan merek Anda. Tinggal menunggu waktu!

TWITTER REACTIONS

COMMENTS